Too Much Information Will Kill You(?)

Banjir Informasi

Ketika Aldous Huxley mulai menulis Brave New World, novel fenomenal yang didapuk sebagai salah satu novel berbahasa inggris terbaik abad ke-20, Indonesia masih berupa ide.

Itu terjadi pada 1931. Tahun yang sama saat Soekarno diasingkan ke Ende, Flores, oleh pemerintah kolonial Belanda. Di sejumlah wilayah lain di dunia hantu depresi ekonomi mulai menebar jala ancaman, sebelum akhirnya pecah Perang Dunia II.

Umat manusia terseok di lembaran hitam sejarah.

Tapi bukan seperti itulah masa depan yang diramalkan Huxley dalam Brave New World. Huxley—melalui buku yang enak dibaca tersebut—melukis masa depan jauh lebih suram lagi.

Neil Postman, penulis, pemerhati budaya, pendidik, sekaligus pemerhati media, pernah merangkum ide masa depan yang digambarkan Huxley. Pada masa depan, kembali menggaungkan Huxley, Postman mengatakan umat manusia akan, “menghibur diri sampai mati.”

Terdengar sarkas dan berlebihan? Tunggu dulu.

Hari ini perkembangan teknologi informasi telah membawa umat manusia ke dalam apa yang disebut Postman, “banjir informasi”.

Alih-alih hidup dalam situasi penuh sensor, ketidakbebasan pers dan informasi, umat manusia hari ini justru hidup dalam gelombang arus besar informasi.

Gelombang raksasa itu tidak hanya menghancurkan batas-batas pengetahuan, lebih dari itu, ada kalanya gelombang tersebut juga menyapu kemanusiaan itu sendiri.

Tapi baiklah, jika itu pun masih terlalu jauh.

Baru-baru ini sejumlah peneliti mengatakan kondisi membanjirnya informasi ini ternyata tidak terlalu baik untuk kreativitas. Padahal dalam situasi hari ini, hampir pada setiap waktu dan di setiap tempat informasi tak henti-hentinya menerpa kita.

Saat informasi-informasi tersebut menerpa kita dalam frekuensi yang nyaris tanpa jeda, kita sesungguhnya tengah membiarkan otak kita untuk tidak bekerja apa pun kecuali menerima informasi tersebut. Tidak ada waktu untuk refleksi, mencerna atau menelaah informasi yang kita terima. Inilah yang pada gilirannya bakal menyebabkan kita kehilangan nalar kreatif.

Para pakar menyarankan ini: berhentilah sesekali mengonsumsi informasi. Tinggalkan gawai anda, matikan televisi. Pandang langit dan mengembaralah ke alam pikiranmu.

Sisanya, selamat menikmati rimba ide yang ada di dalam kepala kita sendiri.

Related Posts

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.